FORUM NIMBUZZER & GRETONGERZ

_°★°_' 。☆。*。☆。 ★。\|/。★ ☆ presented by: bli_naruto ☆ ★。/|\。★ 。☆。*。☆。 *°★°*
 
IndeksIndeks  PortalPortal  GalleryGallery  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Keywords
Latest topics
» Rewrap P2 MXF to MOV-Edit Panasonic HPX3100 P2 MXF in Avid MC 6.5/6/5.5/5
by vivian15 Sat Jun 08, 2013 6:32 am

» Convert Panaonic AG-HPX 600 MXF to AIC for editing in iMovie/FCE on mac
by vivian15 Fri May 31, 2013 1:49 pm

» Save 40% to watch Blu-ray/DVD movie on Galaxy Tab 3 on Windows or Mac
by vivian15 Sun May 26, 2013 10:25 pm

» Get latest Pavtube Video Converter Ultimate with 40% off
by vivian15 Sun May 26, 2013 10:24 pm

» How to Convert & Copy HD videos/DVD/Blu-ray to Nokia Lumia 900
by vivian15 Sat May 25, 2013 10:33 am

» iTunes to Nook -Watch iTunes Movies on Nook HD/HD+ tablet
by VickeyJodie Fri Jan 04, 2013 1:27 pm

» 30% off- How to play DVD movies on Windows 8
by VickeyJodie Tue Jan 01, 2013 9:57 pm

» How to Rip/Convert/Transfer Blu-ray & DVD to iTunes 11 for ATV 3 with AC3 5.1 pass-through
by VickeyJodie Tue Jan 01, 2013 9:56 pm

» 40% Off-Sync/Transfer Blu-ray/DVD movie to Asus VivoTab RT tablet
by VickeyJodie Fri Dec 21, 2012 1:11 pm

» 40% Off-Convert & Transfer Blu-ray/DVD movies to Asus Transformer Prime/Infinity TF700
by VickeyJodie Fri Dec 21, 2012 1:11 pm

April 2018
MonTueWedThuFriSatSun
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
CalendarCalendar
Affiliates
free forum

Statistics
Total 87 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah murerocazeb29

Total 283 kiriman artikel dari user in 251 subjects

Share | 
 

 Akhir Petualangan Cinta

Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin
avatar

Jumlah posting : 237
Points : 708
Join date : 23.08.11

PostSubyek: Akhir Petualangan Cinta   Sat Nov 26, 2011 11:37 am

Ada tiga jejak yang kau tinggalkan. Satu, di celana dalamku. Dua, di
pahaku. Dan yang ketiga, bersemayam di vaginaku. Kali ini, prajuritmu
memang tak sampai bertemu dengan permaisuriku yang sedang masuk masa
subur. Sebab kau sendiri yang mengurung koloni berekor itu dalam tabung
elastis berwarna putih. Entah siapa diantara kita yang belum sanggup
jadi induk.Sore tadi, lagi-lagi kasur di dalam kamar milikmu yang
menjadi saksi. Tidak ada siapa pun, hanya kita berdua. Ini bukan kali
pertama kita melakukannya. Aku telah hampir terbiasa membaca puncak
tamasya berahimu. Bahkan, telah fasih tanganku mendekapmu saat lelehan
lengket itu akhirnya tumpah.
Tidak pernah ada derit ranjang yang
menemani kita. Hanya sisa peluh dan derap napas. Kadang terdengar
sedikit lolongan tanpa irama. Namun, masing-masing dari kita telah sama
tahu untuk buru-buru menyembunyikan setiap suara. Toh, kita masih tetap
dapat saling menikmati. Dan nafsu tidak pernah ambil peduli atas sunyi.
Perjumpaan
kita terbilang sederhana. Hanya dibekali dua cangkir kopi dalam temaram
warna petang. Kita sama-sama duduk menyendiri di pojok kafe yang ramai
dibalut aroma tembakau. Aku terkesan dengan keberanianmu menyuguhkan
nama dan sebuah jabat tangan formal.
Kala itu, aku memang sedang
butuh teman. Lalu, kau hadir. Tidak bersama dengan apapun. Tanpa telinga
yang sudi mendengar, tanpa bibir yang doyan berdendang. Hanya kau saja.
Dan secangkir kopimu yang isinya tinggal separuh.
“Sendirian?”
Selalu
pertanyaan bodoh semacam ini yang mendarat dalam awal sebuah
perkenalan. Aku cuma mengangguk dan tersenyum. Bukankah matamu telah
sejak setengah jam lalu memandangiku duduk sendiri di sofa ini?
Tanpa
diminta, kau telah meletakkan dirimu di sampingku. Matamu menawan
berperisai lensa. Aku semakin terkesan. Ada sesuatu dalam diriku yang
berkata bahwa kita tidak hanya akan berakhir petang itu. Mungkin kau
juga merasakan getar yang sama. Sebab sebelum kita berpisah, telah kau
tinggalkan nomor ponselmu.
Bagiku, kau tidak terlampau istimewa.
Kulitmu sawo matang, tampil sangat serasi dengan warisan paras Jawa.
Sosokmu jauh dari kesan gempal, bahkan tergolong kurus. Pribadimu cukup
unik. Seorang Virgo yang pekerja keras, yang terlalu bangga akan diri
karena sudah tak lagi disuplai orang tua sejak beberapa tahun silam.
Sebuah kemandirian yang kau anggap eksklusif. Aku tidak pernah mengerti,
mengapa kesederhanaan itulah yang nyatanya telah membuatku terpikat.
Waktu
kiranya tak pernah bicara bohong. Lihat saja, ia yang kemudian membawa
kita bersama. Aku sepatutnya berterimakasih pada teknologi pesan singkat
yang sudi menyatukan kita. Enam puluh satu hari setelah perkenalan itu,
aku telah resmi menjadi kekasihmu.
Engkau adalah pacar
pertamaku. Tidak ada sosok Adam lain yang mendahuluimu. Riwayat
percintaanku memang payah. Tidak seperti milikmu yang dimateraikan oleh
puluhan perempuan. Walau begitu, kau bukan cinta pertamaku. Ada
seseorang di luar sana yang telah lebih dulu mencuri hatiku. Namun entah
bagaimana, kau berhasil merebutnya kembali.
Aku lantas menjelma
laksana gadis berumur tujuh belas tahun yang baru mengenal haid.
Terhanyut dalam roman percintaan pertamaku. Kehadiranmu adalah napas
baru bagi hidupku. Yang memberi debar pada setiap jumpa, dan semu merah
atas segala rayu. Kau yang menenggelamkanku dalam rasa rindu.
Adalah
kau pria yang mengecup bibir perawanku. Sempat ragu kukecap sisa manis
tembakau saat kita saling berpagut. Pelukmu membungkusku hangat, seakan
tahu aku adalah pemain amatir. Itulah kali pertama aku merasa tanah
telah raib dari pijakan. Dan tanpa upacara penobatan, mendadak kau telah
menjadi pangeran hati.
Aku tidak pernah tahu bagaimana Tuhan
meracik cinta. Namun, malam itu aku mengerti, cinta kiranya adalah bubuk
mesiu dalam selongsong senapan. Semesta telah mengantarkan kita pada
gairah. Cinta pun lantas meledak sangat cepat tersulut percikan kimia
antara kau dan aku. Dan seperti Adam, kau pun mencicipi buah terlarang
itu. Menikmati ranumku.
Terdengar letup serta desis dari kuali
yang mendidih, dari dua tubuh yang telanjang. Tanganmu bagai selusur
tanaman yang melilit tubuhku. Aku terhimpit. Tapi tidak pernah ada suara
dalam diriku yang menghendakimu untuk pergi. Hanya ada kenikmatan. Rasa
sakit yang nikmat, yang mungkin akan kita kekalkan dalam erangan.
Ketika tengah kau gapai puncak gelora, aku tak lagi sempat menjerit. Ada
yang meruntuhkan tanggulku.
Sesungguhnya, aku adalah perempuan
klasik yang berjanji pada diri sendiri untuk teguh menjaga kesucian,
hingga tiba pada pelabuhan terakhir dalam hidup. Bertahun-tahun,
kubekukan hasrat dalam kepingan usia. Sementara harta karun itu
kulindungi dengan segenap raga, yang mengusung bambu runcing sebagai
tentara.
Tapi, ternyata garis tanganku berbicara lain. Sepotong
janji usang tersuruk ke dasar jurang. Lantas nafsuku pun merdeka.
Mengiringi tiba saatnya bercinta pertama kali dengan seorang lelaki yang
juga perawan.
Mungkin hari itu adalah hari yang diberkahi.
Dengan malam yang hangat saat rembulan Agustus mengawali hari pertama
metamorfosisnya. Diantara gemetar kau bubuhkan tanda tangan pada faktur
terima barang. Tidak hanya jiwaku, tapi juga tubuhku yang perawan. Telah
lengkap dunia menemani langkahku pada penyerahan diri yang sempurna.
Aku milikmu seutuhnya.
Engkaulah lelaki yang akan kucintai
sepanjang hidup. Tempatku menyandarkan jangkar. Aku tidak terdampar.
Tidak lagi sendirian. Inilah tepian pantai dalam ujung bulat bumiku.
Telah kutemukan rumahku.
Dan, seperti inilah rasanya pulang.
Nyaman dan memabukkan. Seperti anestesi sisa operasi yang tak kunjung
hilang. Juga serupa candu yang membius. Terlalu kuat, terlalu nikmat.
Menggiring kita berdua dalam lingkaran yang membelenggu.
Kita
tidak butuh piala untuk merayakan terbukanya rimba diri. Sebab rasa
sakit yang semula datang kini telah binasa. Digantikan dengan serbuan
gelepar yang menjerat. Sebuah kebutuhan, untuk terus mengulang.
Kau
pun tak perlu lagi mengetuk pada pintuku. Sebab engselnya telah lepas.
Hanya tersisa sedikit remang yang mekar saat kecupmu menyentuh leherku.
Sebuah visa menuju perjalanan yang tak terekam waktu. Mendebarkan.
Adakah
kita telah menjelma menjadi penjelajah yang berani? Ataukah kita hanya
remaja yang ketagihan morfin? Duhai, Kekasih, yang manakah kita?
Mengingat
ranjang tempat kita bersetubuh hanya beralas iman yang merapuh. Berada
persis di perbatasan surga dan neraka. Dimana satu sama lain saling
membuka jalan bebas hambatan. Dengan aspal keabuan yang lengang, dan
loket tanpa antrian.
Entah perasaan siapa yang sebenarnya
tersakiti setiap kali kita menutup kencan dengan petualangan. Aku? Kau?
Atau orang tua kita?
Ah, betapa cinta dan dosa telah saling
berhadapan. Selayak madu dan racun yang tertukar. Kita tidak pernah
menjatuhkan pilihan. Sebab keduanya memiliki manis yang sama saat kita
dahaga. Perpaduan itu lantas menjadi istimewa. Tanpa rasa puas, tanpa
rasa jemu.
Seperti sore tadi, aku kembali merebahkan diri
berbantalkan tanganmu. Ada desir hangat yang akrab setiap kali tubuh
kita menyatu. Seolah menaiki roller coaster dengan rel tanpa ujung. Dan
jika telah tiba kita di akhir permainan, akan hadir pandangan mata yang
saling berlomba menyeru untuk tidak berhenti. Kepuasan yang kekal.
“Tinggal tiga nih.”
Suaramu
membuyarkan kenikmatan yang baru saja aku rengkuh lewat aksimu memangsa
setiap jengkal tubuhku. Aku beringsut menjauhimu, memendam gelisah yang
sekejap telah ikut hadir. Aku tahu, angka yang kau sebut itu akan
menandai berakhirnya petualangan kita. Otakku sibuk mengkalkulasikan
setiap kemungkinan yang muncul. Hanya ada tiga kondom. Hanya tersisa
tiga kesempatan untuk mencumbumu.
Teringat oleku percakapan kita
terakhir kali. Ketika aku berusaha mencari sebab atas usulmu untuk
menghentikan luapan banjir dosa. Katamu, ini semua untuk Bumi, buah
cinta kita yang hingga saat ini masih berwujud nama. Aku mengerti, tidak
akan pernah ada tempat dan waktu yang tepat mengiringi persetubuhan di
luar nikah.
Namun, entah mengapa sungguh teramat berat
melepaskannya. Enggan aku menyaksikan keputusan ini mengusang selayak
janji kesucianku dahulu. Aku masih ragu apakah kita sanggup. Prasangka
buruk bermunculan tanpa alasan. Mungkinkah telah kau jumpai setan jahat
bernama bosan?
Pertanyaan ini lesak menguap saat kau kembali
bergerilya. Setiap gerak yang kita buat seolah telah saling berbahasa.
Ini adalah titik akhir lingkaran kita. Seakan tak ingin kehilangan, kita
lantas hanyut. Kau bubuhkan perekat terakhir yang membuat setiap pori
tubuh kita mekar dan memancarkan keringat.
Aku bagai akar singkong
yang tercabut dari tanah. Tak kuhiraukan lagi ketiga bungkus pengaman
yang menggeletak pasrah di samping kita. Kuterbangkan doa pada Tuhan.
Jika ini memang yang terakhir kali, kumohon jadikanlah sempurna. Aku
hanya ingin kau, memilikimu selamanya.
“Selesai. Setelah ini nggak ada lagi.”
Aku
menatap nanar pada senyum yang menyertai lisanmu bicara. Suaramu tak
cukup jelas, berdesakan diantara sengal sisa marathon. Ada isak yang
menghentak nurani namun enggan kuungkap. Gemingku mengalun bersama
senyum. Kuharap engkau tidak pernah tahu itu adalah senyum kupaksakan.
Sejenak aku merasa hampa. Telah mulai kurindu perbatasan surga dan
neraka.
Sekali lagi, kau letakkan dirimu di sampingku. Kali ini
tanpa secangkir kopi, tanpa hangat petang. Hanya kau saja. Kita
berbaring berdampingan, dengan tangan yang tergenggam. Separuh diriku
merambat pada langit-langit kamar. Mencari hati untuk meneguhkan diri.
Aku
berharap ada tekad yang menggantung di sana. Nihil. Justru kelebat
memori tentang kita yang melintas. Pengembaraan kita, dari satu tempat
ke tempat lain. Malam-malam hening yang kita habiskan dalam
persembunyian. Dunia tidak pernah tahu. Hanya para resepsionis hotel
yang menyita kartu kreditmu untuk sebuah ranjang satu kali pakai.
Seandainya kita hendak diadili, tentu mereka yang pantas jadi saksi.
Tidak
pernah kutelusuri langkah pertama yang membawa pusat kendali
mengijinkanmu menjelajahi ragaku. Tidak juga pernah kusesali setiap
percumbuan itu. Perkara ini bukan semata daksa yang dilumuri berahi.
Bukan pula kecerobohan dalam bertindak. Atau ketergesaan yang diburu
oleh nafsu. Aku telah memilihmu. Untuk menjadi pendamping hidupku, ayah
dari anak-anakku.
Tuhan mungkin tak percaya, jikalau keputusan itu
murni telah dirangkai lewat ratusan pertimbangan. Semesta boleh pula
mencibir, namun aku berkeras pada teguhku. Aku menginginkanmu, kini dan
selamanya. Ada keterkaitan yang aku rasa setiap kita melakukannya. Cinta
yang kian besar dan nyata. Tidak ada lagi yang tersembunyi atas diri.
Kuselami samudramu, kusingkap rimbamu, kuresapi jiwamu. Telah kumiliki
dirimu. Pun, telah kaumiliki aku.
“Aku sayang kamu, dengan atau tanpa melakukan ini semua.”
Hanya
sebait sajakmu yang kuingat sebelum malam redup dalam lelah. Aku masih
berbungkus dekapmu. Sesaat telah tumbuh damai yang membesarkan tekad.
Namun, diri masih terlalu goyah untuk berpegang pada ikrarmu.
Bimbang
menyeretku untuk segera menjawab tanya dalam tatapanmu. Aku mengangguk,
membubuhkan stempel persetujuan tentang akhir petualangan cinta kita.
Senyummu mengembang, indah serupa mahakarya. Lalu bibirmu merenggut
napasku. Kita saling dekap tanpa banyak bicara. Terbenam dalam cinta.
Cinta yang mencipta dosa. Duhai, Kekasih, adakah sumpah kita telah
sanggup membilasnya?
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://bli-naruto.7forum.net
 
Akhir Petualangan Cinta
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Crime Story #2 : Akhir Petualangan "Whitey Bulger"
» Arti Cinta
» 20 Alasan Kita Cinta Indonesia
» [ASK] Apa sih opini, pendapat, dan pandangan kalian terhadap sikap demonstran yang marak terjadi akhir-akhir ini? XD
» [True Story] Merasakan Cinta Tak Harus Memiliki

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FORUM NIMBUZZER & GRETONGERZ :: ENTERTAINMENT :: kumpulan cerpen dewasa-
Navigasi: